Wayang Rasulan Bersih Desa Soka, Merawat Kearifan Lokal dan Meneguhkan Semangat Desa Antikorupsi
Soka, 4 September 2026 — Pemerintah Desa Soka kembali menggelar tradisi Rasulan atau Bersih Desa sebagai wujud rasa syukur sekaligus upaya melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 4 September 2026 tersebut dipusatkan di Pendopo Bp. Sinung Darajad dan dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Tantut Sutanto.
Rangkaian Bersih Desa juga semakin semarak dengan penampilan Gejog Lesung, kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat pedesaan. Bunyi ritmis lesung yang dimainkan secara bersama-sama bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga mengingatkan masyarakat pada nilai kebersamaan, gotong royong, kesederhanaan, dan kehidupan agraris yang sejak lama tumbuh di tengah masyarakat Desa Soka.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) Karangdowo, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga Desa Soka.
Pada kesempatan tersebut hadir pula Camat Karangdowo yang baru, Tri Wiyanta, S.IP., M.Si. Kehadirannya sekaligus menjadi momentum perkenalan dan silaturahmi dengan Pemerintah Desa serta masyarakat Desa Soka.
Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, kehadiran Camat Karangdowo yang baru diharapkan semakin memperkuat komunikasi, koordinasi, dan sinergi antara pemerintah kecamatan dengan pemerintah desa dalam menjalankan berbagai program pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Kearifan Lokal sebagai Penguat Nilai Antikorupsi
Pelaksanaan Rasulan dan Bersih Desa tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat atau hiburan masyarakat. Di balik tradisi tersebut terdapat nilai-nilai luhur yang sejalan dengan semangat membangun Desa Antikorupsi, seperti kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, kesederhanaan, serta keterbukaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Tradisi lokal dapat menjadi media yang dekat dengan masyarakat untuk terus menanamkan nilai-nilai integritas. Melalui kebersamaan dalam mempersiapkan kegiatan, partisipasi warga, serta rasa memiliki terhadap desa, tumbuh kesadaran bahwa pembangunan desa merupakan tanggung jawab bersama.
Nilai antikorupsi pada dasarnya tidak hanya diwujudkan melalui aturan dan administrasi pemerintahan, tetapi juga dapat diperkuat melalui budaya yang telah hidup di tengah masyarakat. Semangat gotong royong mengajarkan bahwa kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi, sedangkan keterbukaan dan tanggung jawab menjadi landasan dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Pagelaran wayang kulit juga memiliki makna tersendiri. Wayang sejak dahulu tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan, sarana menyampaikan pesan tentang nilai kehidupan, kepemimpinan, kejujuran, keberanian membela kebenaran, serta konsekuensi dari setiap perbuatan.
Melalui kegiatan Bersih Desa ini, Pemerintah Desa Soka berkomitmen untuk terus menjaga tradisi dan kearifan lokal sekaligus menjadikannya sebagai bagian dari penguatan karakter masyarakat yang berintegritas.
Dengan merawat budaya, memperkuat gotong royong, serta menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab dari lingkungan masyarakat, Desa Soka berharap semangat Desa Antikorupsi tidak hanya hadir dalam tata kelola pemerintahan, tetapi benar-benar tumbuh menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi terjaga, kebersamaan semakin kuat, integritas menjadi budaya.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin